Rumus Menentukan Sample Analisis Statistik
Rumus Statistik Menurut Para Ahli
1. Menentukan ukuran sampel dengan teori Slovin (1960)
Dalam suatu penelitian, seringkali kita tidak dapat mengamati seluruh
individu dalam suatu populasi. Hal
ini dapat dikarenakan jumlah populasi yang amat besar, cakupan wilayah
penelitian yang cukup luas, atau keterbatasan biaya penelitian. Untuk itu,
kebanyakan penelitian menggunakan sampel.
Sampel adalah bagian dari populasi yang digunakan untuk menyimpulkan atau
menggambarkan populasi. Pemilihan sampel dengan metode yang tepat dapat
menggambarkan kondisi populasi sesungguhnya yang akurat, dan dapat menghemat
biaya penelitian secara efektif.
Metode Slovin
Pertanyaan dalam seringkali diajukan dalam metode pengambilan sampel
adalah berapa jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian. Sampel yang
terlalu kecil dapat menyebabkan penelitian tidak dapat menggambarkan kondisi
populasi yang sesungguhnya. Sebaliknya, sampel yang terlalu besar dapat
mengakibatkan pemborosan biaya penelitian.
Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan jumlah sampel adalah
menggunakan rumus Slovin (Sevilla et. al., 1960:182), sebagai berikut:
dimana
n: jumlah sampel
N: jumlah populasi
e: batas toleransi kesalahan (error tolerance)
Untuk menggunakan rumus ini, pertama ditentukan berapa batas
toleransi kesalahan. Batas toleransi kesalahan ini dinyatakan dengan
persentase. Semakin kecil toleransi kesalahan, semakin akurat sampel
menggambarkan populasi. Misalnya, penelitian dengan batas kesalahan 5% berarti
memiliki tingkat akurasi 95%. Penelitian dengan batas kesalahan 2% memiliki
tingkat akurasi 98%. Dengan jumlah populasi yang sama, semakin kecil toleransi
kesalahan, semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan.
Contoh:
Sebuah perusahaan memiliki 1000 karyawan, dan akan
dilakukan survei dengan mengambil sampel. Berapa sampel yang dibutuhkan apabila
batas toleransi kesalahan 5%.
Dengan menggunakan rumus Slovin:
n = N / ( 1 + N e² ) = 1000 / (1 + 1000 x 0,05²) = 285,71 » 286.
Dengan demikian, jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 286
karyawan.
Referensi:
Sevilla,
Consuelo G. et. al (2007). Research
Methods. Rex Printing Company. Quezon City.
2. Menentukan ukuran sampel dengan formula Cochran, W. G. (1977)
Cochran, W. G. (1977), dalam bukunya berjudul “Sampling techniques”
edisi ke 3 menjelaskan suatu formula sampling yang dapat anda jadikan
referensi. Cochran membagi 2 teknik menentukan sampel berdasarkan data
populasi yang bersifat kontinu dan bersifat kategori.
Formula Cochran untuk data kategori
dimana:
n = ukuran sampel yang akan kita cari
z = nilai tabel z ( tabel distribusi normal) pada tingkat kepercayaan tertentu. Lihat tabel z disini
p = proporsi kategori dari total seluruh kategori. Nilainya berupa nilai desimal antara 0-1, misal 0.5, 0.2, dst.
q = proporsi kategori lain selain p yang juga dituliskan sebagai (1-p)
e = margin error
Contoh :
Sebagai
contoh, katakan kita ingin mengevaluasi program penyuluhan yang
mengajak petani untuk menggunakan metode baru. Anggaplah populasinya
besar tetapi kita tidak tahu persentase dari penerimaan metode baru
tersebut. Oleh karena itu, kita berasumsi tingkat penerimaannya 50:50
atau p = 0,5. Selanjutnya kita pilih α = 0,05 dan keakuratan 5% . Jumlah
sampel yang diperlukan adalah sebagai berikut:
Formula Cochran untuk data kontinyu
n = ukuran sampel yang akan dicari
z = nilai z berdasarkan pada alpha tertentu, lihat tabel z
s = standard deviasi dari populasi, dan
e = margin error
3. Menentukan ukuran sampel menurut Sugiyono (2010:217)
Menurut Sugiyono (2010:217) Teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu Probability Sampling dan Nonprobability Sampling. Probability Sampling meliputi simple random, proportionate stratified random, disproportionate stratified random, dan area random. Non probability sampling meliputi sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling.
Berikut ini keterangan-keterangan
mengenai sampel tersebut di atas.
a. Probability
Sampling
Probability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan
peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi
anggota sampel.
1. Simple random sampling
Simple random sampling adalah
teknik untuk mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling. Dengan demikian setiap unit sampling sebagai unsur populasi yang
terpencil memperoleh peluang yang sama untuk menjadi sampel atau untuk mewakili
populasi. Contoh populasi terdiri dari 500 orang mahasiswa program S1 (unit sampling). Untuk memperoleh sampel
sebanyak-sebanyak 150 orang dari populasi tersebut, digunakan teknik ini, baik
dengan cara undian, ordinal, maupun tabel bilangan random.
2. Proportionate stratified random sampling
Teknik ini hampir sama dengan simple random sampling namun penentuan sampelnya memperhatikan
strata (tingkatan) yang ada dalam populasi.
Misalnya, populasi adalah karyawan PT. XYZ berjumlah
125. Dengan tingkat kesalahan 5% diperoleh besar sampel adalah 95. Populasi
sendiri terbagi ke dalam tiga bagian (marketing, produksi dan penjualan) yang
masing-masing berjumlah :
Marketing : 15
Produksi : 75
Penjualan : 35
Maka jumlah sample yang diambil berdasarkan masing-masing
bagian tersebut ditentukan kembali dengan rumus n = (populasi kelas / jml
populasi keseluruhan) x jumlah sampel yang ditentukan
Marketing
: 15 / 125 x
95 = 11,4
dibulatkan 11
Produksi : 75 / 125 x
95 = 57
Penjualan : 35 / 125 x
95 = 26.6
dibulatkan 27
Sehingga dari keseluruhan sample kelas
tersebut adalah 11 + 57 + 27 = 95 sampel.
3.
Disproportionate Stratified Random
Sampling
Disproporsional
stratified random sampling adalah teknik yang hampir mirip dengan proportionate stratified random sampling
dalam hal heterogenitas populasi. Namun, ketidakproporsionalan penentuan sample
didasarkan pada pertimbangan jika anggota populasi berstrata namun kurang
proporsional pembagiannya.
Misalnya, populasi karyawan PT. XYZ berjumlah 1000 orang yang
berstrata berdasarkan tingkat pendidikan SMP, SMA, DIII, S1 dan S2. Namun
jumlahnya sangat tidak seimbang yaitu :
SMP : 100 orang
SMA : 700 orang
DIII : 180 orang
S1 : 10 orang
S2 : 10 orang
Jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 ini sangat tidak
seimbang (terlalu kecil dibandingkan dengan strata yang lain) sehingga dua
kelompok ini seluruhnya ditetapkan sebagai sampel.
4. Cluster Sampling
Cluster sampling
atau sampling area digunakan jika
sumber data atau populasi sangat luas misalnya penduduk suatu provinsi,
kabupaten, atau karyawan perusahaan yang tersebar di seluruh provinsi. Untuk
menentukan mana yang dijadikan sampelnya, maka wilayah populasi terlebih dahulu
ditetapkan secara random, dan menentukan jumlah sample yang digunakan pada masing-masing
daerah tersebut dengan menggunakan teknik proporsional
stratified random sampling mengingat jumlahnya yang bisa saja berbeda.
Contoh:
Peneliti ingin mengetahui tingkat efektivitas proses belajar
mengajar di tingkat SMA. Populasi penelitian adalah siswa SMA seluruh
Indonesia. Karena jumlahnya sangat banyak dan terbagi dalam berbagai provinsi,
maka penentuan sampelnya dilakukan dalam tahapan sebagai berikut :
1. Menentukan
sample daerah. Misalnya ditentukan secara acak 10 Provinsi yang akan dijadikan
daerah sampel.
2. Mengambil
sampel SMA di tingkat Provinsi secara acak yang selanjutnya disebut sampel
provinsi. Karena provinsi terdiri dari Kabupaten/Kota, maka diambil secara acak
SMA tingkat Kabupaten yang akan ditetapkan sebagai sampel (disebut Kabupaten
Sampel), dan seterusnya, sampai tingkat kelurahan / Desa yang akan dijadikan
sampel. Setelah digabungkan, maka keseluruhan SMA yang dijadikan sampel ini
diharapkan akan menggambarkan keseluruhan populasi secara keseluruhan.
b. Nonprobability
Sampling
Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak
memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk
dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi, sampling sistematis, kuota, aksidental, purposive, jenuh, snowball.
1. Sampling Sistematis
Sampling sistematis adalah teknik sampling yang
menggunakan nomor urut dari populasi baik yang berdasarkan nomor yang
ditetapkan sendiri oleh peneliti maupun nomor identitas tertentu, ruang dengan
urutan yang seragam atau pertimbangan sistematis lainnya.
Contoh:
Akan diambil sampel dari populasi karyawan yang berjumlah 125.
Karyawan ini diurutkan dari 1–125 berdasarkan absensi. Peneliti bisa menentukan
sampel yang diambil berdasarkan nomor genap (2, 4, 6, dan seterusnya) atau
nomor ganjil (1, 2, 3, dan seterusnya), atau bisa juga mengambil nomor
kelipatan (2, 4, 8, 16, dan seterusnya).
2. Sampling Kuota
Sampling kuota adalah
teknik sampling yang menentukan jumlah sampel dari populasi yang memiliki ciri
tertentu sampai jumlah kuota (jatah) yang diinginkan.
Misalnya akan dilakukan penelitian tentang persepsi siswa
terhadap kemampuan mengajar guru. Jumlah Sekolah adalah 10, maka sampel kuota
dapat ditetapkan masing-masing 10 siswa per sekolah.
3.
Sampling Incidential
Incidential
merupakan teknik penentuan sampel secara kebetulan atau siapa saja yang
kebetulan (incidential) bertemu dengan peneliti yang dianggap cocok dengan
karakteristik sampel yang ditentukan akan dijadikan sampel.
Misalnya penelitian tentang kepuasan pelanggan pada pelayanan
Mall A. Sampel ditentukan berdasarkan ciri-ciri usia di atas 15 tahun dan baru
pernah ke Mall A tersebut, maka siapa saja yang kebetulan bertemu di depan Mall
A dengan peneliti (yang berusia di atas 15 tahun) akan dijadikan sampel.
4. Purposive Sampling
Purposive sampling
merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan khusus sehingga layak
dijadikan sampel. Misalnya, peneliti ingin meneliti permasalahan seputar daya
tahan mesin tertentu. Maka sampel ditentukan adalah para teknisi atau ahli
mesin yang mengetahui dengan jelas permasalahan ini atau penelitian tentang
pola pembinaan olahraga renang. Maka sampel yang diambil adalah pelatih-pelatih
renang yang dianggap memiliki kompetensi di bidang ini. Teknik ini biasanya
dilakukan pada penelitian kualitatif.
5. Sampling Jenuh
Sampling jenuh
adalah sampel yang mewakili jumlah populasi. Biasanya dilakukan jika populasi
dianggap kecil atau kurang dari 100. Misalnya akan dilakukan penelitian tentang
kinerja guru di SMA XXX Jakarta. Karena jumlah guru hanya 35, maka seluruh guru
dijadikan sampel penelitian.
6. Snowball Sampling
Snowball sampling
adalah teknik penentuan jumlah sampel yang semula kecil kemudian terus membesar
ibarat bola salju. Misalnya akan dilakukan penelitian tentang pola peredaran
narkoba di wilayah A. Sampel mula-mula adalah 5 orang narapidana, kemudian
terus berkembang pada pihak-pihak lain sehingga sampel atau responden terus
berkembang sampai ditemukannya informasi yang menyeluruh atas permasalahan yang
diteliti.
contoh ini di ambil melalui: http://mdonisanjaya.blogspot.com/2012/01/populasi-dan-sampel_25.html
4. Ukuran Sampel Penelitian Menurut Wiratna Sujarweni (2008).
Dalam
tulisan Wiratna Sujarweni (2008) tentang “Belajar mudah SPSS untuk
skripsi, tesis, desertasi & umum” memang tidak ada jumlah atau nilai
tertentu yang syaratkan. Sujarweni berbendapat bahwa jumlah sampel yang
diharapkan 100% mewakili populasi adalah keseluruhan anggota populasi
itu sendiri.
Menurut saya pendapat ini memberi kita pemahaman yang
lebih dalam bahwa hampir tidak mungkin untuk mendapatkan gambaran 100%
populasi dari data sampel. Untuk itu dibutuhkan kehati-hatian dalam
memilih metode sampling, menentukan jumlah sampel, dan perlunya
memperhitungkan tingkat kesalahan.
Sujarweni juga menambahkan jika
ukuran suatu populasi sangat besar maka penelitiannya dapat dilakukan
dengan survei sampel. Penentuan ukuran sampel boleh menggunakan rumus
slovin.
KESIMPULAN :
Dari berbagai penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa teknik
penentuan jumlah sampel maupun penentuan sampel sangat menentukan
keberhasilan pencapaian tujuan dari penelitian. Dengan kata lain, sampel
yang diambil secara sembarangan tanpa memperhatikan aturan-aturan dan
tujuan dari penelitian itu sendiri tidak akan berhasil memberikan
gambaran menyeluruh dari populasi.
NOTE : MATERI INI DIBUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS DARI MATA KULIAH PROBABILITAS DAN STATISTIK UNIVERSITAS DINAMIKA BANGSA JAMBI , DOSEN PENGAMPU : Bpk. Ibnu Sani Wijaya S.Kom, M.S.I , JIKA ADA KEKURANGAN DAN KESALAHAN SAYA MOHON MAAF.
TERIMAKASIH.


Komentar
Posting Komentar